Pages

Tuesday, December 30, 2014

Seven Tools

SEVEN TOOLS
Ini adalah salah satu senjata favorit mahasiswa Teknik Industri dalam menaklukkan data-data, Seven Tools. Yap, senjata ini tergolong mudah untuk digunakan semudah menarik pelatuk pistol, selain itu sangat bermanfaat untuk menganalisa data-data yang sifatnya lebih kuantiatif, karena hanya ada satu tool saja yang membahas data kualitatif. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ditemukanlah New Seven Tools, yang secara dominasi cenderung lebih bersifat kualitatif. Tetapi dalam post ini saya tidak belum akan membahas New Seven Tools. Dalam post ini saya hanya akan membagikan apa itu Seven Tools lengkap beserta contohnya, langsung saja, Selamat Membaca:

Seven Tools

Seven tools atau tujuh alat kendali kualitas merupakan beberapa perangkat yang digunakan dalam keperluan pengendalian mutu terpadu. Ketujuh alat tersebut digunakan dalam langkah-langkah pemecahan masalah kualitas yang merupakan rangkaian perangkat yang berdampingan.
Macam dan fungsi seven tools adalah sebagai berikut :
1.  Check sheet
Berfungsi untuk mempermudah pengumpulan data dan penyajian data. Lembar periksa atau Check Sheet adalah suatu alat bantu untuk memudahkan proses pengumpulan data.  Biasanya  berbentuk  formulir  dimana  item-item  yang  akan diperiksa  telah dicetak dalam formulir tersebut. Lembar periksa dapat digunakan baik untuk data variabel maupun data atribut walaupun umumnya banyak digunakan untuk data atribut.
Desain dari lembar periksa dibuat sesuai dengan data apa yang akan dikumpulkan dan biasanya tergantung dari kreativitas pengumpul datanya untuk memilah-milah data yang berbeda ke dalam kategori tertentu, dengan maksud agar dapat mengumpulkan data dengan lengkap, akurat, dan semudah mungkin.
1.1  Tujuan
2.        Memudahkan proses pengumpulan data terutama untuk mengetahui bagaimana sesuatu masalah sering terjadi. 
3.        Memilah data ke dalam kategori yang berbeda seperti penyebab-penyebab, masalah-masalah dan lain-lain.
4.        Menyusun data secara otomatis, sehingga data itu dapat dipergunakan dengan mudah.
5.        Memisahkan antara opini dan fakta.
1.2  Langkah-langkah / teknis Pembuatan Check sheet :
1.         Memperjelas sasaran pengukuran yang akan dijadikan objek observasi
2.         Mengidentifikasikan apa saja variabel yang akan diukur
3.         Menentukan waktu atau tempat objek yang akan diukur
4.         Mengumpulkan data dengan cara mencatat pada lembar periksa
5.         Menjumlahkan data yang telah dikumpulkan
6.         Periksa kelengkapan data


Tabel 1 Contoh Check Sheet
1.3  Contoh Kasus
Pada contoh kasus saya menggunakan data dari pengamatan praktikum kendali kualitas yaitu analisa kecacatan produk makanan jeli. Dimana pada kemasannya, berat bersih / netto jeli tertera 15 gram. Berikut data yang ada:

Tabel 1.1 Lembar Pengamatan Data Jeli
NO
WARNA
BERAT TOTAL
(gram)
BERAT CUP
(gram)
BERAT BERSIH
(gram)
Kecacatan Produk
(gram)
1
Merah
15,2
0,9
14,3
0,7
2
Merah
14,1
1
13,1
1,9
3
Merah
15,3
0,8
14,5
0,5
4
Merah
15,2
0,9
14,3
0,7
5
Merah
15,4
0,8
14,6
0,4
6
Hijau
15,3
0,9
14,4
0,6
7
Hijau
15
0,9
14,1
0,9
8
Hijau
15
0,8
14,2
0,8
9
Hijau
15,3
0,9
14,4
0,6
10
Hijau
15,3
1
14,3
0,7
11
Ungu
15
1
14
1
12
Ungu
15,3
0,9
14,4
0,6
13
Ungu
14,8
0,8
14
1
14
Ungu
14,8
0,9
13,9
1,1
15
Ungu
14,8
0,9
13,9
1,1
16
Oranye
15,3
1,1
14,2
0,8
17
Oranye
14,5
1
13,5
1,5
18
Oranye
15
1
14
1
19
Oranye
15,3
1
14,3
0,7
20
Oranye
15,5
1
14,5
0,5
21
Putih
15
0,8
14,2
0,8
22
Putih
15,3
1
14,3
0,7
23
Putih
15,1
1
14,1
0,9
24
Putih
15
0,9
14,1
0,9
25
Putih
15,3
0,8
14,5
0,5
Tabel 1.2 Check Sheet
Pemeriksaan     : Jeli
Jumlah Data      : 25 buah
Waktu                : Selasa, 07 Januari 2014. 10.00 wib
Tempat              : Lab. Ergonomi Teknik Industri

No.
Data
Warna
Merah
Hijau
Ungu
Oranye
Putih
1
5
0,7
0,6
1
0,8
0,8
2
5
1,9
0,9
0,6
1,5
0,7
3
5
0,5
0,8
1
1
0,9
4
5
0,7
0,6
1,1
0,7
0,9
5
5
0,4
0,7
1,1
0,5
0,5


2.  Stratification
2.1  Konsep
Berfungsi untuk mengetahui secara lebih terperinci pengelompokan faktor-faktor yang akan mempengaruhi karakteristik mutu. Stratifikasi adalah suatu upaya untuk mengurai atau mengklasifikasi persoalan menjadi kelompok atau golongan sejenis yang lebih kecil atau menjadi unsur-unsur tunggal dari persoalan.
Kegunaan :
a.  Melihat masalah secara lebih terarah dan mendalam
b.  Mempermudah dalam pengambilan kesimpulan
c.   Menghindari salah tafsir
d.  Membantu untuk pembuatan check sheet, diagram pareto, diagram scatter dan histogram.

2.2   Langkah pembuatan Stratification adalah :
a.    Data dikumpulkan dan dikelompokkan berdasarkan faktor-faktor tertentu sesuai baris dan kolom dalam satu tabel secara berurut, seperti :
ü  Jenis defect atau cacat
ü  Jenis penyebab defect
ü  Lokasi defect
ü  Material, hari produksi, unit kerja, penanggung jawab, waktu, dll
b.    Hitung data secara baris dan kolom sesuai faktor-faktor tersebut.



2.3  Contoh Kasus
Tabel 2.1 Stratifikasi Kecacatan Jeli
NO
DATA
KELOMPOK (STRATIFICATION)
MERAH
HIJAU
UNGU
ORANGE
PUTIH
1
5
0,7
0,6
1
0,8
0,8
2
5
1,9
0,9
0,6
1,5
0,7
3
5
0,5
0,8
1
1
0,9
4
5
0,7
0,6
1,1
0,7
0,9
5
5
0,4
0,7
1,1
0,5
0,5
Stratifikasi yang dilakukan pada lembar pengamatan di atas yaitu dengan mengelompokkan data kecacatan produk berdasarkan perbedaan warna pada masing-masing jeli, dimana untuk masing-masing warna jeli diambil 5 buah data.

3    Pareto diagram
3.1  Konsep
Berfungsi untuk menunjukkan urutan permasalahan menurut bobot dan frekuensi. Diagram pareto disebut juga Gambaran pemisah unsur penyebab yang paling dominan dari unsur-unsur penyebab lainnya dari suatu masalah. Diagram Pareto diperkenalkan oleh seorang ahli yaitu Alfredo Pareto. Diagram Pareto ini merupakan suatu gambar yang mengurutkan klasifikasi data dari kiri ke kanan menurut urutan ranking tertinggi hingga terendah. Hal ini dapat membantu menemukan permasalahan yang terpenting untuk segera diselesaikan (ranking tertinggi) sampai dengan yang tidak harus segera diselesaikan (ranking terendah).
Gambar 2. Contoh Diagram Pareto
Selain itu, Diagram Pareto juga dapat digunakan untuk mem­bandingkan kondisi proses, misalnya ketidaksesuaian proses, sebelum dan setelah diambil tindakan perbaikan terhadap proses.
3.2  Teknis pembuatan Diagram Pareto
Adapun Penyusunan Diagram Pareto meliputi 6 (enam) langkah, yaitu:
1.  Menentukan metode atau arti dari pengklasifikasian data, misalnya ber­dasarkan masalah, penyebab jenis ketidaksesuaian, dan sebagainya.
2.  Menentukan satuan yang digunakan untuk membuat urutan karakteristik‑karakteristik tersebut, misalnya rupiah, frekuensi, unit, dan sebagainya.
3.  Mengumpulkan data sesuai dengan interval waktu yang telah ditentukan.
4.  Merangkum data dan membuat rangking kategori data tersebut dari yang terbesar hingga yang terkecil.
5.  Menghitung frekuensi kumulatif atau persentase kumulatif yang diguna­kan.
6.  Menggambar diagram batang, menunjukkan tingkat kepentingan relatif masing- masing masalah. Mengidentifikasi beberapa hal yang penting untuk mendapat perhatian.
Selain itu Diagram Pareto ini mempunyai beberapa Prinsip yaitu :
a.  Vilfredo Pareto (1848-1923), ahli ekonomi Italia:
     Mengatakan bahwasannya 20% dari population memiliki 80% dari total kekayaan.
b.  Juran mengistilahkan “vital few, trivial many”:
     20% dari masalah kualitas menyebabkan kerugian sebesar 80%.

Gambar 3. Prinsip Diagram Pareto
3.3  Contoh Kasus
ü  Perusahaan menemukan empat jenis cacat  pada jely yang mereka produksi, hasilnya terdapat pada tabel :
No.
Jenis Cacat
1
Ukuran nata de coco tidak sesuai
2
Kemasan tidak rapi
3
Variasi warna tidak menarik
4
Berat bersih tidak sesuai

ü  Pengumpulan data dilakukan dan mendapat hasil :
No.
Jenis Cacat
Jumlah (biji)
1
Ukuran nata de coco tidak sesuai
27
2
Kemasan tidak rapi
14
3
Variasi warna tidak menarik
7
4
Berat bersih tidak sesuai
52

ü  Data setelah diurutkan ( dari jumlah tertinggi sampai terendah ) :
No.
Jenis Cacat
Jumlah (biji)
1
Berat bersih tidak sesuai
52
2
Ukuran nata de coco tidak sesuai
27
3
Kemasan tidak rapi
14
4
Variasi warna tidak menarik
7

Jenis Cacat
Jumlah
%
% Kumulatif
Berat bersih tidak sesuai
52
52%
52%
Ukuran nata de coco tidak sesuai
27
27%
79%
Kemasan tidak rapi
14
14%
93%
Variasi warna tidak menarik
7
7%
100%
Jumlah
100



Diagram Pareto :
Berdasarkan diagram dapat diketrahui 2 kecacatan pada produk jely yang tertinggi yaitu berat bersih tidak sesuai dan ukuran nata de coco tidak sesuai. Untuk mendapatkan kualitas produksi yang lebih baik, perusahaan harus segera menyelesaikan kedua masalah yang paling banyak terjadi atau yang menempati ranking tertinggi dan kemudian kedua masalah yang lain atau yang menempati ranking terendah.

4    Cause effect diagram (fishbone diagram)
4.1  Konsep
Berfungsi menunjukkan kumpulan dari sekelompok sebab-sebab (faktor) serta akibat yang timbul (karakteristik mutu) dari masalah kualitas yang dihadapi.
Istilah lain dari Fishbone Diagram adalah Diagram Ishikawa, dikembangkan oleh Kaoru Ishikawa seorang pakar kendali mutu. Sering kali disebut sebagai fishbone diagram dikarenakan bentuknya yang menyerupai tulang ikan. Fishbone Diagram lahir karena adanya kebutuhan akan peningkatan mutu atau kualitas dari barang yang dihasilkan. Seringkali dalam suatu proses produksi dirasakan hasil akhir yang diperoleh tidak sesuai dengan ekspektasi, misalnya: barang cacat terjadi lebih dari yang ditetapkan, hasil penjualan sedikit, mutu barang kompetitor lebih baik dari barang kita, nasabah lebih memilih produk kompetitor kompetitor , dan lain-lain. Dari sinilah timbul pemikiran untuk melakukan analisa dan evaluasi terhadap proses yang sudah terjadi dalam rangka untuk memperbaiki mutu. Fishbone Diagram merupakan salah satu alat pengendali mutu yang fungsinya untuk mendeteksi permasalahan yang terjadi dalam suatu proses industri.
Fishbone Diagram dalam penerapannya digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi penyebab permasalahan. Diagram ini sangat praktis dilakukan dan dapat mengarahkan satu tim untuk terus menggali sehingga menemukan penyebab utama atau Akar suatu permasalahan. Akar ”penyebab ” terjadinya masalah ini memiliki beragam variabel yang berpotensi menyebabkan munculnya permasalahan.
Gambar 4. Contoh Diagram Cause effect
4.2  Langkah-langkah pembuatan Cause effect diagram sebagai berikut:
1.  Menyiapkan sesi sebab-akibat
2.  Mengidentifikasi akibat
3.  Mengidentifikasi berbagai kategori
4.  Menemukan sebab-sebab potensial dengan cara sumbang saran
5.  Mengkaji kembali setiap kategori sebab utama
6.  Mencapai kesepakatan atas sebab-sebab yang paling mungkin

4.3   Contoh kasus





5    Control chart / Peta Kendali
5.1  Konsep
Berfungsi untuk menunjukkan batas maksimum dan batas minimum daerah pengendalian. Peta kendali pertama ditemukan oleh DR. Walter Andrew Shewart dari Bell Telephone Laboratories, Amerika Serikat, tahun 1924. Peta Kendali atau Control Chart merupakan suatu teknik yang di kenal sebagai metode grafik yang digunakan untuk mengevaluasi apakah suatu proses berada dalam pengendalian kualitas secara statistik atau tidak sehingga dapat memecahkan masalah dan menghasilkan perbaikan kualitas. Metode ini dapat membantu perusahaan dalam mengontrol proses produksinya dengan memberikan informasi dalam bentuk grafik. Tujuan dari perancangan progam control chart adalah untuk melihat sejauh mana tingkat keberhasilan suatu proses produksi sehingga bisa dijadikan pedoman dalam mengarahkan perusahaan kearah pemenuhan spesifikasi konsumen.
Ada dua jenis peta kendali menurut data yang digunakan yaitu peta kendali untuk data variabel dan peta kendali untuk data atribut. Terdapat dua jenis peta kendali untuk data variabel, yakni x-bar dan R. Kedua control chart jenis x-bar dan R yang fungsinya saling melengkapi guna mencapai tujuan terkontrolnya suatu proses sehingga tidak bisa dipakai terpisah kecuali untuk tujuan khusus tertentu. Sedangkan peta kendali untuk atribut terdiri dari peta p, peta np, peta c, dan peta u. Dalam peta kendali ada tiga garis, yaitu garis tengah (center line), garis batas atas /UCL (upper control limit), garis batas bawah /LCL (lower control limit).
5.2  Peta R
Dalam tugas ini saya menggunakan peta kendali R untuk mengetahui rentangan data pada contoh kasus.
Fungsi Peta R:
1.  Memantau perubahan dalam hal spread-nya (penyebarannya).
2.  Memantau tingkat keakurasian/ketepatan proses yang diukur dengan mencari  range dari sampel yang diambil.
5.3  Teknis Pembuatan dan Contoh Kasus
·        Setelah menghitung data dengan rumus di atas, plot data mengunakan Ms. Excel:
Keterangan * : 1. Merah 2. Hijau             3. Ungu             4. Oranye          5. Putih
Dari data di atas terlihat bahwa semua tingkat kecacatan masih dalam batas kendali, sehingga tidak diperlukan tindakan perhitungan ulang.


6    Scatter diagram
6.1  Konsep
Berfungsi untuk menentukan korelasi antara faktor-fakor yang akan mempengaruhi karakteristik mutu. Scatter diagram merupakan cara yang paling sederhana untuk menentukan hubungan antara sebab dan akibat dari dua variabel atau untuk menentukan korelasi antara penyebab yang diduga dengan akibat yang timbul dari suatu masalah.
Fungsi :
  1. Menguji bagaimana kuatnya hubungan antara dua variabel,
  2. Menentukan jenis hubungan dari dua variabel itu, apakah positif, negatif dan tidak ada hubungan.
  3. Data variabel yang ditunjukkan dalam diagram tebar, dapat berupa :
4.    Karakteristik kualitas dan faktor yang mempengaruhinya.
5.    Dua karakteristik kualitas yang saling berhubungan.
6.    Dua faktor yang saling berhubungan yang pengaruhi karakteristik kualitas
Contoh Diagram Scatter

6.2  Langkah-langkah Pembuatan Scatter Diagram :
  1. Mengumpulkan data (x,y) yang akan dipelajari hubungannya serta susunlah data tersebut pada tabel. Diperlukan minimal 30 pasangan data
  2. Tentukan nilai-nilai maksimum dan minimum untuk kedua variabel x dan y. Buatlah skala pada sumbu horizontal dan vertikal dengan ukuran yang sesuai agar diagram menjadi lebih mudah untuk dibaca.
  3. Menggambarkan sumbu horizontal dan vertikal
  4. Memetakan data pada diagram
  5. Menginterpretasikan Daigram Tebar
5.3  Contoh Kasus
Dari data berat bersih jeli dan data kecacatan produk, dapat dibuat diagram scatter untuk mengetahui hubungan antara keduanya. Dari diagram scatter di atas, terlihat terdapat suatu hubungan linier yaitu antara berat bersih jeli dengan kecacatan produk yang dihasilkan.  

7    Histogram
7.1  Konsep

Berfungsi untuk mengetahui distribusi dan penyebaran data yang ada. Histogram adalah tampilan grafis dari distribusi pengukuran dan frekuensi setiap pengukuran. Histogram dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengkomunikasikan informasi tentang variasi dalam proses membantu menajemen dalam membuat keputusan yang berfokus pada usaha perbaikan terus menerus.
Histogram adalah suatu alat yang meringkas grafik data yang membolehkan kita untuk  :
a.  Mengelompokkan pengamatan data di dalam sel, atau mendefinisikan kembali kategori, dalam order untuk menutupi lokasi data dan karakteristik dispersi.
b.  Mampu memperkirakan kapabilitas proses dan menghubungkan spesifikasi dengan target.
c.   Memperkirakan bentuk populasi dan menandakan jika ada beberapa gap dalam data.
d.  Memeriksa mutu suatu proses atau pekerjaan.



7.2 Langkah-langkah membuat histogram
  1. Mengumpulkan data pengukuran.
  2. Tentukan data Maksimal (Xmax) dan Minimum (Xmin)
  3. Tentukan besarnya Range,
 R = Xmaks – Xmin = nilai terbesar – nilai terkecil.
  1. Tentukan banyaknya kelas interval (k).
 k = 1 + 3,3 log n dimana: n = jumlah angka yang terdapat dalam data.).
  1. Tentukan lebar interval ( L ) dimana L = R / k
  2. Tentukan batas kelas (batas bawah dan atas).
  3. Tentukan titik tengah kelas.
  4. Tentukan frekuensi dari setiap interval

7.3 Contoh Kasus
Kelas
Frekuensi Aktual
BKB
BKA
Akumulasi
Kelas
13,1
13,35
1
1
13,35
13,6
2
1
13,6
13,85
2
0
13,85
14,1
7
5
14,1
14,35
18
11
14,35
14,6
24
6
 Distribusi Data Jeli

Max
14,6
Min
13,1
Rentang (R)
1,5
n
25
k
6
L
0,25





Dari Histogram di atas, terlihat bahwa data jeli tersebut membentuk kurva normal yang tidak baik, hal tersebut disebabkan karena ada data yang tingkat kecacatannya sangat tinggi dibanding yang lain, yaitu terletak pada kelas 1 dan 2.





KESIMPULAN

Dalam mengolah dan menganalisis data jeli digunakan alat pengendali kualitas yaitu seven tools, diantaranya :
a.  Check sheet
Pada lembar pengamatan (check sheet), dapat diketahui yaitu data berat total jeli dan data berat kulit (cup) jeli. Dari kedua data tersebut dapat dicari data berat bersih jeli yaitu dengan mengurangi data berat total jeli dengan data berat kulit jeli. Selanjutnya, dapat dicari data kecacatan pada produk jeli tersebut dengan cara mengurangi berat bersih yang tertera pada kemasan jeli (15 gram) dengan data berat bersih hasil pengukuran.
Berdasarkan Check sheet didapatkan rata – rata kecacatan produk jeli yaitu sebesar 0,792 atau 0,8.

b.  Pareto Diagram
Dari pareto diagram, dapat diketahui jenis – jenis cacat dari produk jeli yaitu berat bersih tidak sesuai, ukuran nata de coco tidak sesuai, kemasan tidak rapi dan variasi warna tidak menarik. Selain itu juga dapat diketahui 2 jenis cacat dari produk jeli yang memberi pengaruh paling besar yaitu berat bersih tidak sesuai dan ukuran nata de coco tidak sesuai..

c.   Fishbone Diagram
Dari fishbone diagram, dapat diketahui penyebab kecacatan produk jeli yaitu faktor pengawasan,tenaga kerja, nata de coco dan mesin pengepress.
Ø Pada faktor pengawasan, penyebab timbulnya cacat adalah kurangnya pengawasan dan pengawasan tidak teratur.
Ø Pada faktor tenaga kerja, penyebab timbulnya cacat adalah kurang berpengalaman dan human error.
Ø Pada faktor nata de coco, penyebab timbulnya cacat adalah tingkat kekenyalan berbeda dan tidak ada spesifikasi khusus.
Ø Pada  faktor mesin pengepress, penyebab timbulnya cacat adalah penguapan isi jeli, derajat panas terlalu tinggi dan terdapat udara yang masuk pada jeli.


d.  Control Chart (Peta R)
Dari  Peta Kendali R dapat diketahui bahwa tingkat kecacatan jeli tidak terdapat produk yang memiliki kecacatan di luar batas kendali. Sehingga tidak diperlukan perhitungan kembali.

e.  Stratification
Stratifikasi yang dilakukan pada praktikum ini yaitu dengan mengelompokkan data kecacatan produk berdasarkan perbedaan warna pada masing-masing jeli, dimana untuk masing-masing warna jeli diambil 5 buah data.

f.    Scatter Diagram
Dari diagram scatter, dapat disimpulkan bahwa terdapat suatu hubungan linier yaitu antara berat bersih jeli dengan kecacatan produk yang dihasilkan.

g.  Histogram
Dari Histogram, dapat disimpulkan bahwa data jeli tersebut membentuk kurva normal yang tidak baik, hal tersebut disebabkan karena ada data yang tingkat kecacatannya sangat tinggi dibanding yang lain, yaitu terletak pada kelas 1 dan 2.
















DAFTAR PUSTAKA

1.  Grant, Statistical Quality Control, McGrawHill Inc., New York, 1972.
2.  Montgomery, D.C., Introduction to Statistical Quality Control, John Wiley & Sons Inc., New York, 1972.
3.  site.google.com/site/kelolakualitas